baru aja aing baca sebuah artikel
Jakarta Kota Megaproyek di yahoo.
apa? males buka link? oke, gua lampirkan. di paling bawah halaman ini.
Intinya beberapa mantan Gubernur kita yang terhormat telah mencanangkan banyak sekali gagasan ciamik untuk mempercantik ibukota. Rencana merekas sangat brilian jika semuanya benar-benar terlaksana. beberapa sudah terlaksana. tapi kenapa ibukota kita tercinta ini masih aja macet? masih aja banjir? masih aja kurang nyaman untuk ditempati. untung tawaran keuntungan yang sangat amat besar masih menjadi sebuah iklan yang sangat menarik agar orang mau tinggal di jakarta. kalo ga ada iming-iming "untung", orang kampung juga ogah banget maen ke jakarta, mending di kampung, asik, nyaman.
nah, kenapa yah, walaupun gubernur kita punya banyak ide brilian tapi kenapa yang terlaksana baru sedikit? kenapa yah jakarta masih tetep macet? malah tambah parah. kenapa yah masih tetep banjir? malah tambah meluas penyebaran air banjir. berikut, analisisnya.
1. entah ini namanya kutukan atau penyakit keturunan, tapi kayaknya daya tarik
korupsi itu masih memikat "orang atas" . ya kalo ga dikorupsi mah ya, monorel tuh udah jadi dari dulu. yah kalo di berita sih bilangnya tarik ulur siapa yang mau jadi investor. tapi menurut logika gua, itu adalah ladang koruptor buat mencari nafkahnya. makannya investor males ngelanjutin kerja sama. selaen itu, yakali dah, ada insinyur yang geblek. segeblek-gebleknya insinyur juga masih bisa mikir kali. yakali dah, gorong-gorong yang di buat di tengah kota diameternya cuma 60cm. haha ya ga mungkinlah. mereka ya orang pinter. kalo mereka gunain otak mereka dengan benar, mereka ga bakal buat gorong-gorong sesempit itu. ya sayang otak mereka ga digunain dengan benar, istilahnya, otak mereka ga dibayar dengan uang yang cukup. atau, uangnya cukup cuma buat bayar insinyur lulusan universitas di negri antah berantah. lulusan ecek-ecek. kalo dipikir lagi, YAKALIDAH, jakarta ga mampu bayar insinyur yang bener-bener kompeten. pajak-pajak yang dibayar tiap orang emang dikemanain? satu lagi, om om atas yang tercintah, Bis Transjakarta kok tersedianya cuma sedikit yah? kan bikin ga nyaman buat ditumpangin kalo kepenuhan. oh, ga punya duit yah om buat beli armada baru? oooohh ga punya duit, atau emang duitnya abis duluan buat makan om sekeluarga besar?
2.
WAHAI PARA MASYARAKAT HEDONIS BORJUIS EGOISTIS NAJIS SADARLAH! buat apa kalian berlagak-lagak beli mobil sebanyak mungkin? oh mau dipake kerja. kerja dimana? oh di jakarta. oh emang harus yah pake mobil pribadi? oh takut kotor. yasudahlah, semoga engkau tetap bersih dan tidak dikubur bersama timbunan tanah, soalnya bikin kotor. ya dilempar ke larutan asam asik kali yah. kan bebas bakteri.... oh alesan kalian gamau naek angkutan kota karna kotor yah? penuh? ooohh. yaudah deh, kalo kalian para kaum hedonis borjuis egoistis najis semuanya berpikir seperti itu. selamat menaiki kendaraan pribadi anda. dan
SELAMAT MENIKMATI KEMACETAN. JANGAN MENGELUH YAK! ITU KALIAN YANG MILIH LHO. :)
3. ebuset! mau di jakarta ini ada 100 kanal juga gua berani jamin, jakarta bakalan tetep kelelep. et, gimana ga kelelep. coba kita bermain logika. andai, satu orang buang sampah sembarangan sebanyak 2x. 1 sampah beratnya 50gr. penduduk di jakarta ada 20jt orang. yah kita anggap orang yg ga sadar akan kebersihan ada 12 juta jiwa. yap kita kalikan. 2x50= 100 gr per orang. 100x12.000.000 = 1,2 triliun gram sehari. 1jt gram = 1 ton ; kalo 1200.000.000 gram =
1200 ton sampah sehari. ebuset. kalo itungan-itungan kasar ini bener-bener terjadi, gimana jakarta kagak bakal banjir, biarpun jakarta punya 100 kanal dan sejuta gorong-gorong. lah wong kanal ato gorong-gorongnya aja mampet. mau ga banjir? buang sampah ya mbo jangan sembarangan gitu lho ndok. tapi emang gua akuin sih, pengelolaan tatanan tempat sampah dijakarta agak kurang baik. seharusnya setiap 50-70 meter itu ada tempat sampah. lah ini, kadang gua jalan ampe setengah jam dulu, baru bisa ketemu tempat sampah kedua. ya, biarpun tempat sampah nya jauh, harusnya ini gajadi alasan buat kita buang sampah sembarangan bukan? apa salahnya sih, menyimpan sampahmu sejenak. enak kan liat jakartanya bersih, bebas banjir juga. :D
4. oiya selaen masalah korupsi, gua juga yakin, pasti
banyak orang yang suka kabur dari pajaknya. hayoo ngakuuu. taun ini udah bayar pajak belom?
yap, di jakarta ini, fakta bahwa orang yg suka kabur dari pajak itu masih ada. banyak. makannya duit buat pembangunan sering mandat. kenapa sih suka kabur dari pajak? toh itu buat kita-kita juga. oh, takut dikorupsi? ckckck sebegitu burukkah image pemerintah kita? kasian yah pemerintahnya. udah di judge tukang korupsi, terus pajak ga mau di bayar lagi. yaudalah, korupsi biarlah urusan dia sama Tuhannya, yang penting kita melaksanakan kewajiban kita membayar pajak. toh pajak juga buat kita-kita ini.
biasanya sih banyak yang gua pikirin kenapa jakarta bisa ga maju-maju. stuck. malah mundur kebelakang. tapi yang kepikiran ama gua malem ini cuma 4. tambahannya nyusul yak.. hehe
oiya, gua mengkritik bukan berarti tanpa saran yak. gua punya sedikit saran nih biar jakarta ga macet dan bebas banjir.
1. Biaya Parkir Mobil 10 Ribu perjam
2. Biaya Parkir Motor 5 Ribu perjam
3. Tempat Sampah Dibuat Setidaknya Setiap 100 meter
4. Premium Ditiadakan Di SPBU. Premium Hanya Boleh Beredar Di Pool-pool Angkot
5. Angkutan Perkotaan Dibuat Senyaman dan Seaman Mungkin
6. Biaya Angkutan Perkotaan Di Bawah 5 Ribu rupiah
7. Pajak Mobil pertahun 5-10 juta
8. Pajak Motor pertahun Minimal 1 juta
andai pemerintah bisa tegas menegakkan peraturan seperti itu, ga perlu duit banyak buat ngejalaninnya. gua yakin, orang jarkarta pada ogah naek kendaraan pribadi buat kerja. dan jakarta hanya akan dipenuhi oleh Mikrolet, Bis, dan Pejalan Kaki. BUKAN lagi Sampah, Air Banjir, Kendaraan Pribadi yang saling saut menyaut emosi.
ya andai pemerintah di jakarta berani tegas seperti itu. walaupun orang-orang pondok indah pada nyaut-nyaut, tereak terak kayak an**ng. yah andai............ sayang pemerintahan kita sampai pos ini diterbitkan, masih di "setir". yap,
money talks.
_____________________________________________________________________________
Jakarta Kota Megaproyek
Beragam megaproyek direncanakan di Jakarta. Dari pembangunan triple
decker di masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan Jakarta Outer Ring
Road (JORR), MRT (Mass Rapid Transit), jalur busway, monorel,
pembangunan enam ruas jalan tol, Kanal Banjir Timur, hingga sekarang
proyek pembangunan terowongan multifungsi yang diperkirakan menelan
biaya hingga Rp16 triliun.
Akan tetapi baru beberapa proyek saja
yang berjalan, seperti JORR, busway dan Kanal Banjir Timur. Sisanya
masih belum berjalan bahkan mangkrak. Banyaknya rencana proyek besar ini
menyedot perhatian investor dan masyarakat. Berikut adalah beberapa
megaproyek di Jakarta:
1. Triple Decker
Triple
Decker atau jalan layang susun tiga ini pernah diwacanakan semasa
Gubernur Soerjadi Soedirdja (1992-1997) atau di era pemerintahan Orde
Baru. Pemerintah pusat mendukung pembangunan infrastruktur yang
diusulkan Citra Lamtorogung Persada Group milik Siti Hardiyanti Rukmana.
Tujuan
megaproyek Triple Decker adalah mengatasi kemacetan parah di Jakarta.
Namun, setelah Indonesia dihantam krisis moneter disusul tumbangnya
kekuasaan Orde Baru, rencana tersebut tak kunjung direalisasikan.
Terlebih banyak pihak menentang Triple Decker, di antaranya karena bakal
menggusur permukiman warga.
2. Jakarta Outer Ring Road (JORR)
Jakarta
Outer Ring Road (JORR) atau Jalan Tol Lingkar Luar adalah proyek
nasional. Jalan tol ini melingkari bagian luar Jakarta, untuk mengatasi
kemacetan di Ibu Kota. Pemprov DKI Jakarta pun sudah melakukan
pembebasan lahan. Meski pembebasan lahan ini sempat tersendat, JORR
telah terealisasi.
JORR pertama adalah Jalan tol TB Simatupang
(Tol Pondok Indah). Menyusul kemudian pembangunan Tol Ulujami-Rorotan,
Kembangan-Penjaringan, dan Kembangan-Ulujami. Pembangunan dilakukan
secara bertahap.
3. Mass Rapid Transit (MRT)
Mass
Rapid Transit (MRT) adalah proyek Pemprov DKI Jakarta. Gagasan telah
mengemuka sejak Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta. MRT dianggap
menjadi proyek paling ideal untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di
Jakarta.
Sutiyoso menargetkan, MRT bisa direalisasikan akhir
2005 dengan dana pinjaman dari Jepang $600 juta. Gagasan MRT terus
dilanjutkan pada masa Fauzi Bowo jadi Gubernur DKI, tapi tak kunjung
terwujud. Kini, Jokowi bertekad untuk segera merealisasikan MRT meski
terjadi tarik ulur. Jokowi yakin tahun ini proyek pembangunan MRT bisa
berjalan.
4. Jalur busway
Ini adalah
megaproyek gagasan Gubernur Sutiyoso yang menuai kritikan tajam. Jalur
busway dianggap memperparah kemacetan, sebab mengambil salah satu lajur
jalan umum. Meski mendapat kritikan tajam, megaproyek pengadaan jalur
busway berikut bus TransJakarta tetap berjalan dan sudah dinikmati
masyarakat sejak 2004.
Jalur busway terus dikembangkan sampai ke
masa kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo. Kini, Jokowi bertekad meneruskan
program tersebut. Selain menambah bus TransJakarta agar waktu tunggu
relatif singkat, Jokowi berniat untuk mengintegrasikan angkutan umum
melalui sistem satu tiket. Bahkan bus ukuran sedang seperti Metromini
dan Kopaja diproyeksikan melintasi jalur busway.
Rencananya, jalur busway ini akan dibangun sampai 15 koridor. Sampai kini baru berjalan sampai koridor XII.
5. Monorel
Monorel
Jakarta adalah sebuah sistem mass transit dengan kereta rel tunggal
dengan jalur elevated. Monorel terdiri dari dua jalur, jalur hijau
(Semanggi-Casablanca-Kuningan-Semanggi) dan jalur biru (Kampung
Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy).
Proyek ini mangkrak karena
persoalan finansial, padahal kontruksinya telah dimulai pada Juni 2004.
Pada 2003, proyek ini dipercayakan pada perusahaan Malaysia, Mtrans
(yang membangun Monorel KL). Lalu MoU dengan Mtrans dibatalkan, dan
proyek diberikan kepada konsorsium utama Singapura Ominico.
Setahun
berikutnya, proyek ini berganti penanggung jawab. MoU baru pun dibuat
lagi dan proyek diberikan kepada konsorsium perusahaan Indonesia, PT
Bukaka Teknik Utama, PT Inka, dan Siemens Indonesia. Saat ini PT Jakarta
Monorail telah berniat meneruskan proyek pembangunan monorel. Namun
soal siapa anggota konsorsium pemegang konsesi proyek pascakeluarnya PT
Adhi Karya,Tbk, belum jelas.
6. Pembangunan enam ruas jalan tol
Pembangunan
enam ruas jalan tol memicu kontroversi di masyarakat karena dianggap
akan memperparah kemacetan. Pembangunan jalan tol juga dianggap hanya
memfasilitasi pemilik mobil. Diprediksi, jumlah mobil akan terus
meningkat dengan adanya ruas jalan tol ini.
Namun, pembangunan
enam ruas jalan tol telah dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum pada
2005, saat Jakarta dipimpin Gubernur Sutiyoso. Pembangunan tersebut
telah diamanatkan dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah
(Perda RTRW) DKI Jakarta tahun 2011-2030.
7. Kanal Banjir Timur
Kanal
Banjir Timur (KBT) dibangun untuk mengatasi banjir akibat hujan lokal
dan aliran dari hulu di Jakarta bagian timur. Dengan pembangunan Kanal
Banjir Timur diharapkan mengurangi ancaman banjir di 13 kawasan, dari
industri hingga pergudangan.
KBT dibangun untuk menampung aliran
Kali Ciliwung, Kali Cililitan, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran,
Kali Jati Kramat dan Kali Cakung. Kanal tersebut sekaligus juga sebagai
prasarana konservasi air. Adapun luas proyek ini 207 km atau 20.700
hektar.
Rancangannya sudah ada sejak 1973. Berdasarkan rencana
induk "Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta",
pengendalian banjir Jakarta akan bertumpu pada dua terusan yang
melingkari sebagian besar wilayah kota. Terusan ini yang kemudian
bernama Kanal Banjir Barat (telah dibangun pada 1992) dan Kanal Banjir
Timur. Kini, KBT sudah dibangun meski sempat mangkrak karena terkendala
pembebasan lahan.
8. Terowongan multifungsi
Ketika
Sutiyoso masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, gagasan pembangunan The
Deep Tunnel sempat mengemuka. Dan baru di era Jokowi, rencana itu makin
dimatangkan. Sebabnya adalah Jalan Thamrin yang direndam banjir beberapa
waktu lalu, sementara kondisi gorong-gorong yang dibangun pada 1970
hanya berdiameter 60 cm, sehingga tidak mampu menampung debit air hujan.
Jokowi
enggan menyebutnya sebagai The Deep Tunnel. Ia lebih memilih nama
terowongan multifungsi, yang tidak hanya bisa menampung debit air hujan,
tapi juga mengatasi limbah sekaligus bisa menjadi bahan baku air minum.
Terowongan yang mengambil jalur MT Haryono-Pluit ini diperkirakan
berbiaya Rp16 triliun. (Marmi Panti Hidayah)